Sudah beberapa saat ini desa-ku punya gawe.
Pada waktu Kampanye calon Bupati "yang akhirnya tidak" terpilih, desaku mendapat bantuan pasir dan semen untuk memperkeras jalan desa.
Berkat kerja keras dan 'sumbangan tambahan' warga, akhirnya perkerasan jalan desa selesai.
Untuk acara syukuran, tadi malam pemuda desa mengadakan pentas dangdut
Karena dana mepet, mereka memanggil group 'dangdut prapatan', yang terdiri dari elektone, suling dan kendang.
Mungkin mereka sungkan meminta diriku pentas karena dana sangat minim, padahal kalo dimintapun diriku pasti menolak,..he he he. Sebab daripada diriku sudah ada job yang lain....
Sepulang dari 'mbut ge' (nyambut gawe=bekerja) aku bertanya kepada istriku yang ikut menonton pentas dangdut.
"bagaimana pentasnya tadi..."
"ramai,...gelut...(berkelahi)..."
Woalah, dari jaman behula sampai jaman 'intel i7' kok ya sama saja.
Pentas dangdut sama dengan tawuran. Seni proletar yang selalu diwarnai perkelahian.
Mungkin penyebab utama adalah tiap kali ada pentas dangdut, penonton menikmati bersama mas 'Alkohol'
Asal mula perkelahian biasanya karena senggolan pada waktu joget, bahkan ada semboyan diantara para pemuda desa, ......"senggol tusuk"......
Makna pentas dangdut sebagai ucapan syukur rusaklah sudah.
Syukuran kok malah diwarnai perkelahian.
Pentas dangdut sekarang bukanlah ajang pentas seni tetapi ajang kekerasan.
"Aduh......ma..!!!, papa ini kan sedang ngetik, jangan disenggol to..."
"Entar mama bisa papa 'tusuk' lho......"
"e..e...e...e..malah sengaja nyenggol terus, oke deh, ma..... sini....papa tusuk..."
YUUUUK........MARIIIIIIIIIIII..........Eng ing eng......
Cibuk 25072010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar